'http://twitter.com/novitriarianty, My name is Novi Tri Arianty. I was born on 07 November 93. I ♥ Purple, pink and green. I ♥ Psikologi and Biopsikologi. Novi Tri Arianty: Bahasa sebagai Alat Berpikir

Jumat, 09 Desember 2011

Bahasa sebagai Alat Berpikir

Bahasa sebagai Alat Berpikir

  1. Pengertian Bahasa
Bahasa memegang peranan penting dan suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia. Kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan menanggapinya sebagai suatu hal yang biasa, seperti bernapas dan berjalan. Padahal bahasa mempunyai pengaruh-pengaruh yang luar biasa dan termasuk membedakan manusia dari ciptaan lainnya, hal ini senada dengan apa yang diutarakan Ernest Cassirer, sebagaimana yang dikutip oleh Jujun dan Amsal Bachtiar, bahwa keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuannya berpikir melainkan terletak  pada kemampuannya berbahasa. Oleh karena itu, Ernest menyebut manusia sebagai Animal Symbolycum, yaitu mahluk yang mempergunakan simbol. Secara generik istilah ini mempunyai cakupan yang lebih luas daripada istilah Homo Sapiens, sebab dalam kegiatan berpikir manusia mempergunakan simbol.
 Tanpa mempunyai kemampuan berbahasa maka kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dapat dilakukan dan juga manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaannya sebab tanpa mempunyai bahasa maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Simpul Aldous Huxley, ”tanpa bahasa,” manusia tak berbeda dengan anjing atau monyet.”  Manusia dapat berpikir dengan baik karena dia mempunyai bahasa. Tanpa bahasa manusia tidak dapat berpikir rumit dan abstrak seperti yang kita lakukan dalam kegiatan ilmiah juga tanpa bahasa manusia tidak dapat mengkomunikasikan pengetahuan kita kepada orang lain. Berpikir abstrak yang dimaksud adalah dimana obyek-obyek yang faktual di transformasikan menjadi simbol bahasa yang bersifat abstrak. Adanya simbol yang bersifat abstrak ini memungkinkan manusia untuk memikirkan sesuatu secara berlanjut.
Demikian juga bahasa memberikan kemampuan untuk berpikir teratur dan sistematis yang diwujudkan lewat perbendaharaan kata-kata yang dirangkaikan oleh tata bahasa untuk mengemukakan jalan pemikiran atau ekspresi perasaan. Kedua aspek bahasa ini yakni informatif dan emotif tercermin dalam bahasa yang kita gunakan. Artinya kalau kita berbicara maka hakekatnya informasi yang kita sampaikan mengandung unsur-unsur emotif, demikian juga kalau kita menyampaikan perasaan maka ekspresi itu mengandung unsur-unsur informatif, misalnya musik dapat dianggap sebagai bentuk dari bahasa, dimana emosi terbebas dari informasi, sedangkan buku telepon memberikan kita informasi tanpa emosi”. ) Kalau kita telaah lebih lanjut, bahasa mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan, dan sikap.

  1. Pengertian Berpikir
Definisi yang paling umum dari berpikir adalah berkembangnya ide dan konsep di dalam diri seseorang (Bochenski, dalam Suriasumantri, 1983:5). Menurut Solso (1998, dalam khodijah, 2006:117) berpikir adalah sebuah proses dimana representasi mental baru dibentuk melalui transformasi informasi dengan interaksi yang komplek. Berdasarkan definisi di atas, berpikir adalah kemampuan pemikiran seseorang yang dapat melahirkan ide-ide dan konsep-konsep, sehingga ide dan konsep tersebut dapat dipindahkan dari satu orang ke orang lainnya guna pemecahan masalah, sehingga orang yang berfikir tersebut mendapatkan pengetahuan baru yang berguna bagi dirinya. Berpikir juga berarti berupaya secara mental untuk memahami sesuatu yang dialami atau mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi.
Di dalam berpikir juga termuat kegiatan saat seseorang dalam kondisi sedang meragukan sesuatu, memastikan, merancang, menghitung, mengevaluasi, membandingkan, menggolongkan, membedakan, menghubungkan, dan menafsirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada serta menarik kesimpulan. Berpikir ialah mengelola, memproses, dan menyusun serta mentransformasi informasi secara kognitif di dalam memori otak manusia. Berpikir sering dilakukan manusia dengan tujuan menghasilkan konsep, logika dan membuat keputusan guna memecahkan masalah. Berpikir akan menghasilkan penalaran yaitu sebuah konsep yang logis dan sistematis untuk mendapatkan kesimpulan, baik kesimpulan induktif maupun kesimpulan deduktif. Kesimpulan induktif ialah hasil pemikiran yang dimulai dari hal-hal khusus menjadi kesimpulan yang berlaku umum. Sedangkan kesimpulan deduktif ialah hasil pemikiran dari yang umum hingga menuju ke hal-hal khusus.
Menurut Suharnan (2005:281) Berpikir dapat diartikan sebagai proses menghasilkan reprensentasi mental yang baru melalui transformasi informasi yang melibatkan interaksi secara komplek antara atribut-atribut mental, seperti penilaian, abstraksi, penalaran, imajinasi, dan pemecahan masalah. Proses berfikir ini akan menghasilkan informasi baru. Taylor (dalam Suharnan, 2005) mendefinisikan berpikir sebagai proses penarikan kesimpulan. Berpikir dilakukan untuk menghadapi dan memahami realitas dengan menarik kesimpulan dan meneliti berbagai penjelasan dari realitas internal dan eksternal. Biasanya kegiatan berpikir dimulai ketika muncul keraguan dan pertanyaan untuk dijawab atau berhadapan dengan persoalan atau masalah yang memerlukan pemecahan. Kegiatan berpikir juga dirangsang oleh kekaguman dan keheranan dengan apa yang terjadi atau apa yang dialami.
Dengan demikian kegiatan berpikir manusia selalu tersituasikan dalam kondisi konkret subjek yang bersangkutan. Perbedaan dalam cara berpikir dan memecahkan masalah merupakan hal yang penting dan nyata. Perbedaan itu mungkin disebabkan oleh faktor pembawaan sejak lahir dan sebagian lagi berhubungan dengan taraf kecerdasan seseorang. Namun, jelas bahwa proses kesuluruhan dari pendidikan formal dan pendidikan informal sangat mempengaruhi gaya berpikir seseorang dan mempengaruhi pula mutu pemikirannya. Berpikir ialah memproses informasi secara kognitif guna menyusun ulang informasi dari internal dan eksternal. Menurut Nyayu Khadijah (2009:130) Ada tiga pandangan dasar tentang berpikir yaitu:
  1. Berpikir adalah proses kognitif yang timbul dalam pikiran secara internel  dan hasilnya dapat berupa perilaku.
  2. Berpikir merupakan proses memanipulasi pengetahuan yang ada dalam memori otak.
  3. Berpikir akan menghasilkan pemikiran yang dapat membantu manusia memecahkan masalah dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi. Screven and Paul (1996) berpikir kritis sebagai proses disiplin cerdas dari konseptualisasi penerapan, analisis, sintesis, evaluasi aktif dan berketrampilan yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh, observasi, pengalaman, refleksi, penalaran atau komunikasi sebagai penuntun menuju kepercayaan dan aksi. Berpikir kritis juga telah didefinisikan sebagai berpikir yang memiliki maksud, masuk akal dan berorientasi pada tujuan serta kecakapan untuk menganalisis informasi dan ide-ide secara logis dari berbagai macam perspektif.
  1. Fungsi Bahasa
Menurut Kneller bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif, dan afektif . Fungsi simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah, sedangkan fungsi emotif menonjol dalam komunikasi estetik. Dalam komunikasi ilmiah proses komunikasi harus terbebas dari unsur emotif agar pesan yang disampaikan bisa diterima secara reproduktif, artinya identik dengan pesan yang dikirimkan. Namun dalam prakteknya hal ini sukar dilaksanakan kecuali informasi yang terdapat dalam buku telepon inilah yang menjadi salah satu kelemahan bahasa sebagaisarana komunikasi ilmiah dimana menurut Kemeny bahasa mempunyai kecenderungan emosional. Komunikasi ilmiah mengisyaratkan bentuk komunikasi yang sangat lain dengan komunikasi estetik. Komunikasi ilmiah bertujuan untuk menyampaikan informasi yang berujud pengetahuan.
Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bila sipengirim komunikasi menyampaikan suatu informasi katkanlah x, maka si penerima komunikasi harus menerima informasi x pula.Informasi x yang diterima harus merupakan reproduksi yang benar-benar sama dari informasi x yang dikirimkan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah informasi, yakni suatu proses komunikasi yang mengakibatkan penyampaian informasi yang tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan, dimana suatu informasi yang berbeda akan menghasilkan proses berpikir yang berbeda pula. Oleh sebab itu maka proses komunuikasi ilmiah harus bersifat jelas dan obyektif yakni terbebas dari unsur-unsur emotif.
Berbahasa dengan jelas artinya ialah bahwa makna yang terkandung dalam kata-kata yang dipergunakan diungkapkan secara ekplisit untuk mencegah pemberian makna yang lain. Berbahasa yang jelas artinya juga mengemukakan pendapat atau jalan pemikiran yang jelas. Kalau kita teliti lebih lanjut kalimat dalam karya ilmiah padadasarnya merupakan suatu pernyataan. Kalimat seperti ”Logam jika dipanaskan akan memanjang” pada hakekatnya suatu pernyataan yang mengandung pengetahuan tentang hubungan sebab akibat. Untuk mampu mengkomunikasikan suatu pernyataan dengan jelas maka seseorang harus menguasai tata bahasa yang baik. Menurut Charlton Laird, tata bahasa merupakan alat dalam mempergunakan aspek logis dan kreatif dari pikiran untuk mengungkapkan arti dan emosi dengan mempergunakan aturan-aturan tertentu. Karya ilmiah juga mempunyai gaya penulisan yang pada hakikatnya usaha untuk mencoba menghindari kecenderungan yang bersifat emosional bagi kegiatan seni, namun merupakan kerugian bagi kegiatan ilmiah.

  1. Kekurangan Bahasa
Kekurangan bahasa hakikatnya, Pertama terletak pada peranan bahasa itu sendiri yang bersifat multifungsi yakni sebagai sarana komunikasi emotif, afektif, dan simbolik. Kita tidak bisa menggunakan salah satu fungsi saja untuk mengkomunikasikan informasi tanpa kaitan emotif dan afektif karena bahasa ilmiah harus bersifat objektif tanpa mengandung emosi dan sikap atau dengan perkataan lain harus bersifat antiseptik, dan reproduktif. Kekurangan kedua, terletak pada arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa. Misalnya kata ”cinta” sering digunakan dalam lingkup yang luas umpamanya dalam hubungan ibu dan anak, ayah dan anak, kakek nenek, dua orang kekasih, perasaan pada tanah air dan ikatan pada rasa kemanusiaan yang besar. Kelemahan ketiga, terletak pada sifat majemuk (pluralistik) dari bahasa. Sebuah kata kadang mempunyai lebih dari satu arti yang berbeda, misalnya kata Ilusi dalam Kamus Bahasa Indonesia mempunyai arti angan; khayal; 1: sesuatu yang memperdaya pikiran dengan memberikan kesan yang palsu; 2: gagasan yang keliru; suatu kepercayaan yang tidak berdasar; keadaan pikiran yang memperdaya seseorang. Kelemahan keempat, bahasa sering bersifat berputar-putar (sirkular) dalam mempergunakan kata-kata terutama dalam memberikan definisi. Umpamanya kata ”pengelolaan” didefinisikan sebagai ”kegiatan yang dilakukan dalam sebuah organisasi”. Sedangkan ”organisasi” didefinisikan sebagai ”suatu bentuk kerja sama yang merupakan wadah dari kegiatan pengelolaan.

  1. Kesalahan-Kesalahan Berfikir
a)    Fallacy of Dramatic Instance berawal dari kecenderungan orang untuk melakukan apa yang dikenal dengan over-generalisatuon. Yaitu, penggunaan satu-dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum. Seringkali kesimpulan itu merujuk pada pengalaman pribadi seseorang.
b)  Fallacy of Retrospective Determinism atau dapat dijelaskan sebagai kebiasaan masyarakat yang menganggap masalah sosial yang sekarang terjadi sebagai sesuatu yang secara historis memang selalu ada, tidak bisa dihindari, dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang. Cara berpikir ini selalu mengacu pada “kembali ke belakang” atau “historis”. Atau secara jelasnya disebutkan sebagai upaya kembali pada sesuatu yang seakan-akan sudah ditentukan dalam sejarah masa lalu.
c)    Post Hoc Ergo Propter Hoc atau sesudah itu- karena itu- oleh sebab itu. Bila ada peristiwa yang terjadi dalam urutan temporal, maka dapat dinyatakan bahwa yang pertama adalah sebab dari yang kedua. Inti dari kesalahan berpikir ini ketika seseorang berargumentasi dengan menghubungkan sesuatu yang tidak berhubungan.
d) Fallacy of Misplaced Concretness adalah kesalahan berpikir yang muncul karena kita mengkonkretkan sesuatu yang sebenarnya adalah abstrak. Atau dapat dikatakan sebagai menganggap real seuatu yang sebetulnya hanya ada dalam pikiran kita.
e)    Argumentum ad Verecundiam ialah berargumen dengan menggunakan otoritas, walaupun otoritas itu tidak relevan atau ambigu. Berargumentasi dengan menggunakan otoritas seseorang yang belum tentu benar atau berhubungan demi membela kepentingannya dalam hal ini kebenaran argumentasinya.
f)   Fallacy of Composition adalah dugaan bahwa terapi yang berhasil untuk satu orang pasti juga berhasil untuk semua orang.
g) Circular Reasoning artinya pemikiran yang berputar-putar, menggunakan kesimpulan untuk mendukung asumsi yang digunakan lagi untuk mendukung kesimpulan semula.
h)   Black and White Fallacy: Inti dari kesalahan berfikir ini ketika seseorang melakukan penilaian atau berargumentasi berdasarkan dua alternatif saja dan menafikan alternatif lain.
i)     Argumentum Ad Miseria: Kesalahan berpikir karena menarik kesimpulan dengan berdasarkan rasa kasihan tanpa berdasarkan bukti. Misalnya, “memang benar Soeharto itu korupsi, tetapi dia kan juga mantan Presiden kita. Olehnya itu kita ampuni saja.” Atau “memang benar Hafsah dan Aisya bantu membantu menyusahkan Nabi sebagaimana mereka ditegur dalam Surah At-Tahrim ayat 4, tetapi bagaimanapun juga mereka itu adalah istri Nabi yang harus kita hormati.”
j)      The Fallacy Of The Undistrubed Midle Term: Kesalahan berpikir karena orang yang mengambil kesimpulan tidak melakukan sesuatu apapun selain menghubungkan dua ide dengan ide ketiga, dan dalam kesimpulannya orang yang mengambil ide mengklaim bahwa telah menghubungkan satu sama lain.
k)  Fallacy Determinisme Paranoid: Pada umumnya istilah paranoid kita kenal dalam disiplin ilmu psikologi. Yaitu suatu kondisi kejiwaan seseorang yang merasakan rasa takut yang berlebihan tanpa alasan yang patut dibenarkan. Biasanya kasus ini kita temukan pada orang yang trauma atau memakai sabu-sabu (salah satu jenis narkoba). Tetapi dalam kesempatan ini kita membahas paranoid yang timbul karena kesalahan berpikir, yakni adanya rasa takut yang berlebihan karena tekanan kebodohannya. 

Kesimpulan

            Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah diperlukan sarana berupa bahasa. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut pada orang lain. Berpikir ilmiah adalah kegiatan berpikir yang didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris dan sistematis untuk melahirkan ide-ide dan konsep-konsep, sehingga ide dan konsep tersebut dapat dipindahkan dari satu orang ke orang lainnya guna pemecahan masalah, sehingga orang yang berpikir tersebut mendapatkan pengetahuan baru yang berguna bagi dirinya. Pertama-tama, bahasa kita cirikan sebagai serangkaian bunyi. Dalam hal ini bunyi sebagai alat komunikasi yang paling utama selain memakai berbagai isyarat, bahasa merupakan lambang dimana rangkaian bunyi membentuk suatu arti tertentu yang kita kenal dengan kata melambangkan suatu obyek tertentu. Bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif, dan afektif. Fungsi simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah, sedangkan fungsi emotif menonjol dalam komunikasi estetik. Dalam komunikasi ilmiah proses komunikasi harus terbebas dari unsur emotif agar pesan yang disampaikan bisa diterima secara reproduktif, artinya identik dengan pesan yang dikirimkan. Kekurangan bahasa hakikatnya terletak pada:
  1. Peranan bahasa itu sendiri yang bersifat multifungsi sebagai sarana berkomunikasi, afektif dan simbolik,
  2. Arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa,
  3. Bersifat majemuk (pluralistik) dari bahasa, dan
  4. Sering bersifat berputar-putar (sirkular) dalam mempergunakan kata-kata terutama dalam memberi definisi. 

Daftar Pustaka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar